ZeroWaste ala SmansaGari

“The end of waste: Zero waste by 2020” dipopulerkan pertama kali pada tahun 2002 oleh  W. Snow & J. Dickinson warga Negara New Zealand. Pada tahun 2002 Selandia Baru menjadi negara pertama di dunia yang mengadopsi kebijakan nasional Zero Waste.  Melalui visi “Menuju Selandia Baru Bebas Sampah dan Selandia Baru yang Berkelanjutan”, kegiatan ekstensif yang dipimpin oleh masyarakat, setelah 10 tahun telah menghasilkan 38 dari 74 kota di Selandia Baru memenuhi target Zero Waste. Sangat mungkin Selandia Baru akan bebas sampah pada 2020 nanti.

Fenomena Bebas Sampah ini terus berkembang meliputi teori, praktik, dan pembelajaran individu, keluarga, bisnis, komunitas, dan organisasi atau pemerintah. Berbagai kegiatan untuk merespons krisis dan kegagalan dalam pengelolaan sampah ini berkembang ke seluruh dunia. Inisiatif gerakan Eropa bebas sampah melibatkan pemerintah, perusahaan dan kelompok masyarkat untuk mendorong semua negara anggota uni eropa untuk menghilangkan limbah residu dari tingkat hulu, sehingga mengakhiri praktik pengelolaan sampah landfill dan insenerator.

Sebagai negara berkembang, Indonesia justru memiliki permasalahan sampah yang sangat rumit. Lahan untuk Tempat Pembuangan Sampah (TPS) semakin berkurang. Aktifitas penimbunan dan pembakaran sampah tidak lagi dipandang sebagai alternative penyelesaian. Dalam sepuluh tahun terakhir, berbagai aktifis pemerhati lingkungan mulai resah dan mendesak pemerintah untuk turut serta dalama gerakan zero waste.  Secara khusus, pemerintah telah mengembangkan konsep dan implementasi bebas sampah dengan meningkat keterlibatan masyarakat, perkantoran , maupun sekolah.

SMA Negeri 1 Gunungsari (Smansagari) Lombok  Barat adalah sekolah dengan luas 3 hektar lebih,  sebenarnya memiliki lahan yang cukup untuk tempat pembuangan sampah. Dulu sampah yang di hasilkan dari seluruh warga sekolah dibuang/ditimbun/dibakar di belakang sekolah. Namun sejak digalakkan program zero waste di Indonesia khususnya NTB, Smansagari terus berbenah. Beberapa tahun lalu sudah menerapkan sistim bak sampah terpisah untuk sampah organic dan non organik. Dalam penanganan berikutnya sampah organik masih di timbun sedangkan yang non organik di berikan ke pemulung.

Program zero waste ala Smansagari kemudian berkembang dari sekedar gerakan partisipatif pengelolaan sampah kesadaran kolektif untuk mengurangi sampah. Hal ini tergambar dari beberapa kebijakan sekolah dalam tata laksana pengelolaan sekolah. Penyelenggaraan kegiatan sekolah, proses belajar mengajar, kegiatan evaluasi, maupun kegiatan lainnya diatur sesedikit mungkin meninggalkan sampah, atau setidaknya menghindari penggunaan bahan-bahan habis pakai yang berpotensi meninggalkan sampah yang tidak ramah lingkungan.

Program pertama adalah mewajibkan para siswa mengumpulkan seluruh sampah plastik sisa belanjanya di kantin. Kegiatan ini dipadukan dengan pemanfataan bahan plastik untuk  pembelajaran Prakarya. Praktik Prakarya telah menghasilkan ribuan ecobricks yang digunakan untuk menghias taman-taman sekolah.  Untuk lebih meningkatkan kesadaran siswa dalam program ini, guru juga menugaskan siswa untuk membuat ecobrick di rumah dan harus mengumpulkan 1 buah ecobricks setiap minggunya. Kegiatan ini telah berjalan cukup baik dan hasilnya SMAN 1 Gunungsari terpilih sebagai juara III Sekolah Sehat di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pemanfataan plastik dan botol bekas minuman ini tidak sekedar untuk ecobricks tetapi untuk berbagai bentuk bunga maupun hiasan. Untuk lebih mengapresiasi keterlibatan para siswa dan guru dalam kegiatan di atas, SMAN 1 Gunungsari juga menyediakan ruang pameran untuk menampung hasil karya siswa dan guru.  Secara tidak langsung program zero waste ini juga dapat meningkatkan kompetensi dan keterampilan siswa. Di pihak lain dapat mengasah potensi dan kreasi seni dikalangan siswa.

Kedua,  sekolah  telah menetapkan bahwa untuk semua kegiatan yang membutuhkan konsumsi, tidak lagi disediakan dalam kotak. Hampir semua kegiatan mulai dari jamuan tamu, kegiatan siswa, guru dan Tata Usaha harus menghindari penggunaan kotak maupun jenis-jenis makanaan yang berbungkus plastik. Sekolah menyediakan piring dan gelas untuk kegiatan yang memerlukan makan dan minum. Bahkan selalu menyajikan makanan-makanan tradisional, atau dalam bentuk kue olahan yang dibungkus daun. Ada satu yang khas adalah  adalah untuk tamu-tamu dinas akan disediakan minuman tuak manis, bukan air mineral.

Kebiasaan tersebut telah berhasil mengurangi sampah yang biasanya menjadi masalah setelah kegiatan berakhir. Disamping itu, program ini juga dapat meningkatkan rasa kersamaan di antara warga sekolah. Bahkan beberapa tamu baik perorangan maupun kedinasan sering kali memberikan tanggapan positif dan kesan yang mendalam. Kebanyakan tamu merasa lebih nyaman dan puas dengan kebersamaan yang mereka rasakan ketika berkunjung atau mengadakan acara bersama kami.

Ketiga, kebijakan paperless dalam penyelenggaraan administrasi dan pembelajaran. Dimulai dari kebiasaan untuk menggunakan undangan rapat/pertemuan melalui aplikasi pesan di android. Pengumuman ke siswa juga sering diberikan melalui group chat kelas. Penyebaran bahan dan paparan rapat melalui dokumen elektronik yang nanti dapat di presentassikan saat pertemuan. Pelaksanaan ulangan dengan cara Computer base Test (CBT) maupun berbasis Android. . bahkan Penggunaan e-modul dalam pembelajaran dan terakhir penggunaan e-raport untuk penilaian.

Kebijakan tersebut telah berhasil mengurangi penggunaan kertas di sekolah. Seperti kita ketahui, kertas merupakan sampah terbanyak di sekolah. Apalagi sehabis ulangan semester. Sampah kertas selalu berserakan, dari bekas lembaran soal maupun  lembar coret-coretan siswa. Meskipun selama ini dapat segera di atasi dengan di bakar, tapi tentu saja pembakaran (insenerasi) tidak sejalan dengan program zero waste.  Pembakaran juga dapat mengganggu kehidupan biota di sekitarnya, asapnya dapat menimbulkan pencemaran udara, bahkan residu yang tertinggal akan menimbulkan pencemaran lingkungan.

Keempat, sekolah juga menjalin kerjasama dengan komunitas pengolah sampah dari Desa Kekait Kecamatan Gunungsari. Pelibatan komunitas ini lebih di harapkan untuk memberikan contoh dan wawasan kepada siswa dan warga sekolah lainnya tentang cara pengelolaan sampah. Khususnya kepada siswa, komunitas ini mengajarkan beberapa cara pengelolaan sampah organik, sampah plastic biasa maupun sampah-sampah bentuk lain.

Melalui pelibatan komunitas pengolah sampah ini, warga sekolah juga diberikan perkenalkan  dengan  jenis-jenis dan pengelompokan sampah. Selanjutnya di berikan pemahaman tentang cara penanganan sampah sesuai pengelompokannya. Komunitas ini juga menunjukkan alat-alat sederhana untuk pengolahan sampah beserta bahan-bahan atau cairan yang diperlukan guna memepercepat proses pengolahan sampah. Pembuatan pupuk kompos secara langsung juga dilatihkan kepada beberapa siswa untuk kemudian ditularkan kepada siswa yang lain.

Demikian, bebas sampah (zero waste) harus dipahami sebagai sebuah adalah filsafat yang mendorong perancangan ulang daur sumberdaya, dari sistem linier menuju siklus tertutup, sehingga semua produk digunakan kembali. Tentu saja untuk sampai kepada tidak ada sampah yang dikirim ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) dan insinerator atau teknologi termal lainnya (gasifikasi, pirolisis) mungkin elum tercapai. Tetapi usaha terus menerus dan dukungan berbagaai pihak akan membuat program zero waste 2020 dapat tercapai.

Sebagai bukti keseriusan pemerintah,  Pemprov NTB telah menaikkan anggaran program unggulan NTB Zero Waste menjadi dua kali lipat pada RAPBD 2020 mendatang. Tahun depan, Pemprov telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp31,40 miliar untuk program zero waste. Bahkan NTB Zero Waste  merupakan program prioritas yang ada di RPJMD 2019-2023. Melaui anggaran ini pemerintah provinsi NTB menunjukkan keseriusaannya untuk mendukung program NTB Zero Waste yang  harapannya tidak sekedar gerakan masyarakat bebas sampah tetapi akan menyentuh pemberdayaan aparatur pemerintah peningkatkan sumber daya manusia NTB.